Latest Event Updates

Posted on Updated on

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pernahkah Mendengar FUS pada Kucing Anda? Berikut Penjelasan Dokter Risa

Posted on Updated on

Drh. RisaFUS (Feline Urologic Syndrome) atau FLUTD (Feline Lower Urinary Tractus Diseases), merupakan kondisi patologis (gangguan kesehatan) pada organ Vesica Urinaria (Kantung kencing) dan Uretra (Saluran kencing bagian bawah). Sangat sering terjadi pada kucing jantan, karena saluran kencing 5 kucing jantan lebih panjang dan berliku daripada betina.

Ciri-ciri :

  1. Hematouria: kencing berdarah, mulai dari konsistensi rendah sampai yang pekat. Hal ini disebabkan adanya perlukaan baik pada saluran kencing uretra maupun di kantung kencing;
  2. Dysuria: kondisi dimana kucing mengalami kesulitan urinasi/kencing. Radang dan infeksi di uretra dan kantung kencing serta adanya sumbatan kristal urea menyebabkan adalah penyebabnya;
  3. Pollakiuria: “anyang-anyangen” keinginan untuk terus urinasi (meningkatnya frekuensi urinasi) yang dipicu oleh rasa sakit serta volume urine yang meningkat karena urinasi tidak lancar;
  4. Periuria: aktifitas kencing yang tidak terkontrol, baik frekuensi maupu lokasi urinasinya.

Kecenderungan / Penyebab:
Kucing-kucing dengan pola hidup tertentu akan beresiko lebih tinggi untuk terkena FLUTD, diantaranya:

  1. Kegemukan;
  2. Dikandangkan secara menerus;
  3. Kurang gerak;
  4. Makan dry food dgn kadar kristal tinggi disertai kurangnya minuman;
  5. Hidup di lingkungan kering dan panas.

Terdapat enam pengelompokan penyebab dari FLUTD ini diantaranya:

  1. Urolithiasis: terbentuknya cristal urea (batu ginjal) pada kantung kencing;
  2. Bacterial Infection: adanya proses peradangan dan infeksi pada kantung kencing dan uretra menimbulkan perlukaan dan rasa sakit yang luar biasa, terlebih jika sudah terjadi luka terbuka dan perdarahan (hematouria);
  3. Urethral PLUG: adanya sumbatan/plug pada uretra;
  4. Neoplasia: munculnya tumor di sepanjang saluran perkencingan, sehingga menekan/mempersempit lajur urinasi dan dalam kondisi lebih fatal adalah menyumbat total saluran urinasi;
  5. Perlukaan/kelainan anatomi: ada kalanya proses kesembuhan dari perlukaan saluran perkencingan terutama uretra dengan terbentuknya jaringan ikat, akan mempersempit saluran urinasi;
  6. Idiopathic cystitis: 50 sd 60% penyebab FLUTD tidak diketahui penyebabnya intinya adalah munculnya proses peradangan tidak diketahui dg pasti penyebabnya.

Oleh : drh. Risa Isna Fahziar
Klinik Hewan Sahabat Satwa Banyuwangi
PDHI Jatim IV

Bersambung Bagian 2

Tingkatkan Profesionalitas, PDHI Jatim IV Selenggarakan Seminar Berkelanjutan

Posted on Updated on

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dalam menjamin kompetensi dalam pelayanan, serempak dokter hewan yang terhimpun dalam PDHI Jatim IV menyelenggarakan pendidikan berkelanjutan dengan topik “Mewujudkan profesionalitas dokter hewan dalam menghadapi persaingan global”. Seminar yang berlangsung 24 Maret 2018 itu menghadirkan tokoh hebat dalam profesi yakni Drh. R.D. Wiwiek Bagja; Drh. Cucu Kartini Sajuthi; dan Drh. Muhammad Munawwaroh, MM.

Turut juga hadir peserta dari sejawat dokter hewan Jember, Situbondo, Bondowoso dan juga mahasiswa yang antusias meningkatkan ilmu dengan standart profesional. Semua yang hadir tampaknya juga larut dalam sesi diskusi saat Drh. R.D. Wiwiek Bagja yang juga menjadi Dewan Penasehat PB PDHI menjelaskan betapa vitalnya peran dokter hewan masa kini. Setelah melalui banyak perjuangan melalui keputusan perundang-undangan serta payung hukum tindakan dokter hewan menjadi lebih profesional dan diakui masyarakat.

Seminar ini memang mengambil topik profesionalitas dokter hewan karena melihat semakin tingginya layanan dokter hewan dari luar yang ingin praktik di Indonesia. Dokter hewan Indonesia dituntut untuk meningkatkan kualitas layanan, edukasi kepada masyarakat serta standart pelayanan medik yang ideal.

“Akan ada seminar selanjutnya yang akan kami selenggarakan untuk memperkuat wawasan dokter hewan terutama di Banyuwangi”, jelas Dokter Santika selaku ketua pelaksana. Topik yang akan datang terutama untuk penanganan penyakit hewan yang bersifat strategis dan berpotensi secara ekonomi bagi daerah Banyuwangi. (one)

Uniknya Pengobatan Cacingan pada Anjing & Kucing

Posted on Updated on

Drh. RisaTidak jarang kita merasa heran dengan anjing-kucing peliharaan kita, beberapa saat yang lalu sudah diberikan obat cacing, namun tidak lama kemudian kita ketahui terlihat lagi ada cacing pada muntahan, terlihat cacing pada feses dan bahkan terlihat potongan cacing pita di rambut sekitar anus. Pada tulisan saya sebelumnya sudah kita bahas tentang jenis-jenis cacing, lokasi hidup dan ciri-cirinya. Dalam tulisan kali ini akan kita bahas tentang uniknya (pola) pengobatan cacing, mengingat masing-masing cacing memiliki sensitifitas pada jenis obat serta siklus hidup dan kepekaan yang berbeda.

Pada umumnya obat cacing bekerja dengan cara melumpuhkan sistem syaraf cacing dewasa dan bukan mematikan stadium telur, untuk itu perlu dievaluasi metode ulangan untuk mengobati larva yang baru menetas sebelun akhirnya bertelur lagi.

Jenis zat aktif pada obat cacing yang sering digunakan di Indonesia adalah Pyrantel, Mebendazole, Albendazole, Febantel bekerja melumpuhkan sistem syaraf hanya pada jenis cacing gilig (roundworm) yakni Genus Toxocara Sp. (Toxocara cati & Toxocara leonina) sedangkan untuk jenis cacing pita (Dipylidium) tidak mampu dilumpuhkan oleh jenis zat aktif diatas, namun bisa dilumpuhkan oleh zat aktif Praziquantel dan Dichlorphen.

edited_1466659559755Beberapa merk obat yang sering kita gunakan antara lain:

  1. Combantrin-Pfizer (Pyrantel) : efektif untuk mengobati cacing gilig (Toxocara);
  2. Drontal Cat-Bayer (Praziquantel-Pyrantel) efektif untuk mengobati cacing gilig (Toxocara) dan cacing pita (Dipylidium);
  3. Vermox (Mebendazole) hanya efektif mengobati cacing gilig;
  4. Drontal Plus-Bayer dan Cazitel Plus-Zoetis (Pyrantel, Praziquantel dan Febantel). Efektif untuk mengobati cacing gilig, pita, bahkan efektif untuk cacing kait (Ancylostoma) dan cacing lambung (Phisaloptera).

Konkretnya untuk mencapai keberhasilan pengobatan cacing ini perlu diperhatikan / dilakukan:

  1. Pengenalan gejala yang tampak (ada di tulisan sebelumnya);
  2. Pengenalan jenis cacing yang menginfeksi (ada di tulisan sebelumnya);
  3. Kombinasi pengobatan khususnya untuk jenis Dipylidiun caninum yang bisa menular melalui kutu, bisa memanfaatkan preparat spray atau tetes seperti Frontline atau Revolution;
  4. Pengulangan pengobatan akan lebih baik jika gejala yang tampak sudah sangat parah dan kronis;
  5. Perbaikan manajemen perawatan, kandang, pakan dan jangan lupa sebaiknya bak pasir, pasir diganti yang baru serta kandang beserta perlengkapan lainnya juga di cuci bersih;
  6. Dosis dan kandungan harus tepat. Dosis berkaitan dengan berat badan pasien sedangkan kandungan zat aktif berkaitan dengan jenis cacing yang menginfeksi.

Konsultasikan dengan dokter hewan atau bila perlu ikuti saran dokter hewan untuk melakukan pemeriksaan feses, guna meneguhkan diagnosa dan mengetahui jenis cacing yang menginfeksi.

Oleh : drh. Risa Isna Fahziar
Klinik Hewan Sahabat Satwa Banyuwangi
PDHI Jatim IV