Latest Event Updates

Posted on Updated on

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Iklan

Uniknya Pengobatan Cacingan pada Anjing & Kucing

Posted on Updated on

Drh. RisaTidak jarang kita merasa heran dengan anjing-kucing peliharaan kita, beberapa saat yang lalu sudah diberikan obat cacing, namun tidak lama kemudian kita ketahui terlihat lagi ada cacing pada muntahan, terlihat cacing pada feses dan bahkan terlihat potongan cacing pita di rambut sekitar anus. Pada tulisan saya sebelumnya sudah kita bahas tentang jenis-jenis cacing, lokasi hidup dan ciri-cirinya. Dalam tulisan kali ini akan kita bahas tentang uniknya (pola) pengobatan cacing, mengingat masing-masing cacing memiliki sensitifitas pada jenis obat serta siklus hidup dan kepekaan yang berbeda.

Pada umumnya obat cacing bekerja dengan cara melumpuhkan sistem syaraf cacing dewasa dan bukan mematikan stadium telur, untuk itu perlu dievaluasi metode ulangan untuk mengobati larva yang baru menetas sebelun akhirnya bertelur lagi.

Jenis zat aktif pada obat cacing yang sering digunakan di Indonesia adalah Pyrantel, Mebendazole, Albendazole, Febantel bekerja melumpuhkan sistem syaraf hanya pada jenis cacing gilig (roundworm) yakni Genus Toxocara Sp. (Toxocara cati & Toxocara leonina) sedangkan untuk jenis cacing pita (Dipylidium) tidak mampu dilumpuhkan oleh jenis zat aktif diatas, namun bisa dilumpuhkan oleh zat aktif Praziquantel dan Dichlorphen.

edited_1466659559755Beberapa merk obat yang sering kita gunakan antara lain:

  1. Combantrin-Pfizer (Pyrantel) : efektif untuk mengobati cacing gilig (Toxocara);
  2. Drontal Cat-Bayer (Praziquantel-Pyrantel) efektif untuk mengobati cacing gilig (Toxocara) dan cacing pita (Dipylidium);
  3. Vermox (Mebendazole) hanya efektif mengobati cacing gilig;
  4. Drontal Plus-Bayer dan Cazitel Plus-Zoetis (Pyrantel, Praziquantel dan Febantel). Efektif untuk mengobati cacing gilig, pita, bahkan efektif untuk cacing kait (Ancylostoma) dan cacing lambung (Phisaloptera).

Konkretnya untuk mencapai keberhasilan pengobatan cacing ini perlu diperhatikan / dilakukan:

  1. Pengenalan gejala yang tampak (ada di tulisan sebelumnya);
  2. Pengenalan jenis cacing yang menginfeksi (ada di tulisan sebelumnya);
  3. Kombinasi pengobatan khususnya untuk jenis Dipylidiun caninum yang bisa menular melalui kutu, bisa memanfaatkan preparat spray atau tetes seperti Frontline atau Revolution;
  4. Pengulangan pengobatan akan lebih baik jika gejala yang tampak sudah sangat parah dan kronis;
  5. Perbaikan manajemen perawatan, kandang, pakan dan jangan lupa sebaiknya bak pasir, pasir diganti yang baru serta kandang beserta perlengkapan lainnya juga di cuci bersih;
  6. Dosis dan kandungan harus tepat. Dosis berkaitan dengan berat badan pasien sedangkan kandungan zat aktif berkaitan dengan jenis cacing yang menginfeksi.

Konsultasikan dengan dokter hewan atau bila perlu ikuti saran dokter hewan untuk melakukan pemeriksaan feses, guna meneguhkan diagnosa dan mengetahui jenis cacing yang menginfeksi.

Oleh : drh. Risa Isna Fahziar
Klinik Hewan Sahabat Satwa Banyuwangi
PDHI Jatim IV

Seputar Cacing, Cacingan dan Pengobatannya [Bag.3]

Posted on

Tidak jarang kita merasa heran dengan anjing-kucing peliharaan kita, beberapa saat yang lalu sudah diberikan obat cacing, namun tidak lama kemudian kita ketahui terlihat lagi ada cacing pada muntahan, terlihat cacing pada feses dan bahkan terlihat potongan cacing pita di rambut sekitar anus. Pada tulisan saya sebelumnya sudah kita bahas tentang jenis-jenis cacing, lokasi hidup dan ciri-cirinya. Dalam tulisan kali ini akan kita bahas tentang uniknya (pola) pengobatan cacing, mengingat masing2 cacing memiliki sensitifitas pada jenis obat serta siklus hidup dan kepekaan yang berbeda.

Pada umumnya obat cacing bekerja dengan cara melumpuhkan sistem syaraf cacing dewasa dan bukan mematikan stadium telur, untuk itu perlu dievaluasi metode ulangan untuk mengobati larva yang baru menetas sebelun akhirnya bertelur lagi.

Jenis zat aktif pada obat cacing yang sering digunakan di Indonesia adalah Pyrantel, Mebendazole, Albendazole, Febantel bekerja melumpuhkan sistem syaraf hanya pada jenis cacing gilig (roundworm) yakni Genus Toxocara Sp. (Toxocara cati & Toxocara leonina) sedangkan untuk jenis cacing pita (Dipylidium) tidak mampu dilumpuhkan oleh jenis zat aktif diatas, namun bisa dilumpuhkan oleh zat aktif Praziquantel dan Dichlorphen.

Beberapa merk obat yang sering kita gunakan antara lain:

  1. Combantrin-Pfizer (Pyrantel) : efektif untuk mengobati cacing gilig (Toxocara)
  2. Drontal Cat-Bayer (Praziquantel-Pyrantel) efektif untuk mengobati cacing gilig (Toxocara) dan cacing pita (dipylidium)
  3. Vermox (Mebendazole) hanya efektif mengobati cacing gilig
  4. Drontal Plus-Bayer dan Cazitel Plus-Zoetis (Pyrantel, Praziquantel dan Febantel). Efektif untuk mengobati cacing gilig, pita, bahkan efektif untuk cacing kait (Ancylostoma) dan cacing lambung (Phisaloptera).

Konkretnya untuk mencapai keberhasilan pengobatan cacing ini perlu diperhatikan / dilakukan:

  1. Pengenalan gejala yang tampak (ada di tulisan sebelumnya)
  2. Pengenalan jenis cacing yang menginfeksi (ada di tulisan sebelumnya)
  3. Kombinasi pengobatan khususnya untuk jenis Dipylidiun caninum yang bisa menular melalui kutu, bisa memanfaatkan preparat spray atau tetes seperti Frontline atau Revolution
  4. Pengulangan pengobatan akan lebih baik jika gejala yang tampak sudah sangat parah dan kronis
  5. Perbaikan manajemen perawatan, kandang, pakan dan jangan lupa sebaiknya bak pasir, pasir diganti yang baru serta kandang beserta perlengkapan lainnya juga di cuci bersih
  6. Dosis dan kandungan harus tepat. Dosis berkaitan dengan berat badan pasien sedangkan kandungan zat aktif berkaitan dengan jenis cacing yang menginfeksi.

Konsultasikan dengan dokter hewan atau bila perlu ikuti saran dokter hewan untuk melakukan pemeriksaan feses, guna meneguhkan diagnosa dan mengetahui jenis cacing yang menginfeksi.

Oleh: Drh. Risa Isna Fahziar
Klinik Hewan Sahabat Satwa Banyuwangi
PDHI Jatim IV

Seputar Cacing, Cacingan dan Pengobatannya [Bag.2]

Posted on Updated on

3. Cacing Kait (HOOKWOORM)
FB_IMG_1506690266074Tidak seperti dua cacing yang kita bahas pada tulisan sebelumnya, cacing kait cukup kecil, hanya 1/8 inchi, jenis yang paling banyak menginfeksi adalah Ancylostoma duodenale.

Ancylost bisa menular ke manusia dengan cara masuk kedalam jaringan kulit telapak kaki dan masuk ke sistem pencernaan tubuh manusia.

Cacing ini memakan darah dan menyebabkan anemia, sangat berbahaya jika menginfeksi kitten, terlebih jika pertumbuhan kitten terlambat oleh kurangnya kualitas perawatan baik asupan nutrisi maupun kesiapan induk.

Bagaimana gejala cacingan jenis ini?
Kucing dewasa umumnya jarang menunjukkan gejala khusus, namun pada kitten akan sangat tampak gejala cacingan seperti :

  • kesakitan pada rongga perut
  • ada lendir dan darah pada feses
  • diare
  • kurus, melemah dan anemia
  • semakin lemah dan akhirnya mati

Bagaimana penularan cacing ini?
Kitten maupun kucing dewasa pada umumnya tertular cacing kait ini melalui telur yang terdapat pada feses menetas menjadi larva dan sebagian akan tetap tinggal di feses, larva yang aktif akan menempel pada kaki / rambut si kucing dan akan masuk ke saluran pencernaan (usus halus) pada saat kucing menjilat dan menggigit rambut serta kulit yang terdapat larva cacing kait disana.

Cacing kait mampu menginfeksi seekor kucing dengan “masuk” ke tubuh kucing melalui kulit, selanjutnya “otw” menuju ke usus. Dalam waktu 2 s/d 3 minggu larva akan tumbuh dewasa dan sudah mampu memproduksi telur dalam jumlah yang banyak. Seekor baby cat atau kitten bisa tertular cacing kait ini melalui air susu induk.

Perlu lebih dari satu macam obat dan metode untuk bisa mengatasi cacingan jenis ini.

4. Cacing Lambung (STOMACH WORM)
Cacing lambung yakni jenis Physaloptera atau Ollanulus tricupsis merupakan cacing dengan jumlah yang paling sedikit untuk menginfeksi kucing. Penularannya pun terjadi jika seekor kucing memakan muntahan dari kucing lain yang mengandung Physaloptera ini.

Bagaimana ciri-ciri atau gejalanya?
Cacing lambung ini sangat kecil, cukup sulit terlihat dengan mata telanjang, namun demikian karena lokasi hidupnya yang ada di lambung kita bisa mengetahui ciri-ciri cacingan jenis ini antara lain :

  • Muntah menerus
  • kurus dan semakin kurus
  • lemah, cenderung diam dan murung.

Diperlukan pengobatan yang tepat untuk jenis cacing ini, baik dosis, jenis obat serta waktu pemberian. Cacing yang mati akan ikut keluar bersama feses.

[Bersambung bag.3 : Pengobatan]

Oleh: Drh. Risa Isna Fahziar
Klinik Hewan Sahabat Satwa Banyuwangi
PDHI Jatim IV

Seputar Cacing, Cacingan dan Pengobatannya [Bag.1]

Posted on Updated on

Drh. RisaSiapa sih yang tak ingin hewan kesayangannya bebas dari cacingan? Ya, setiap pemilik dan penyayang hewan pasti menginginkan demikian. Berikut Dokter Risa memberikan tips agar hewan kesayangan kita bebas dari cacingan.

Bagaimanakah ciri-ciri cacingan pada kucing?
Cacingan pada kucing merupakan keadaan yang hampir pasti terjadi pada setiap kitten bahkan semua usia. Karena penularan cacing bisa melalui (vektor) kutu, burung, cacing tanah, kecoa, tikus, feses,  transplasental maupun melalui air susu. Untuk mengetahui ciri-ciri kucing kita cacingan secara umum (meski sebenarnya berbeda ciri dari masing-masing infeksi cacing yang berbeda) antara lain:

  • Lemah
  • Anemia
  • Konsistensi feses tidak stabil (kadang keras, kadang lembek, berlendir dan berdarah serta ditemukan potongan / segmen cacing pita / telor cacing)
  • Pertumbuhan terhambat
  • Perut buncit
  • Kurus dan cenderung kotor (mata belekan)
  • Muntah

Jika kucing Anda menunjukkan gejala cacingan, sebaiknya segera datang ke Dokter Hewan untuk menentukan diagnosa (tipe cacing yang menginfeksi) serta program pengobatannya. Pengobatan cacing merupakan hal yang unik sederhana namun tidak bisa disepelekan, memberikan obat cacing tanpa rekomendasi dan pencatatan yang baik oleh dokter hanya akan menyebabkan pengobatan salah sasaran dan resistensi pada cacing.

Ada berapa jeniskah cacing yang biasa menginfeksi kucing?
Ada empat jenis cacing yang sangat sering menginfeksi kucing dalam segala umur, diantaranya :

1. Cacing Gilig (ROUNDWORM)
FB_IMG_1506470154202Cacing ini merupakan cacing yang paling banyak menginfeksi kucing dan bisa “MENULAR KE MANUSIA”.

Dua jenis Roundworm ini adalah Toxocara leonina dan Toxocara cati. Berbentuk bulat memanjang, berwarna putih, panjang antara 5  s/d 10cm (8 s/d 16cm) dan ujung badannya pipih.

Jika kita mengetahui ada betukan seperti karet gelang berwarna putih pada muntahan kucing, bisa dipastikan itu adalah cacing gilig ini.

Ciri lain dari infeksi Roundworm adalah :

  • tiba-tiba perut menjadi buncit
  • muntah menerus (rutin)
  • diare
  • lemah dan pertumbuhan terhambat

Seekor kitten akan tertular cacing gilig ini dari air susu. Larva cacing yang “stay” di jaringan kelenjar susu induk akan masuk ke saluran pencernaan anak melalui air susu induk. Selain melalui air susu anak juga tertular cacing dia memakan telur cacing yang “aktif”. Beberapa hewan yang bisa menjadi vektor (perantara) penularan cacing ini adalah burung, tikus, kecoa dan cacing tanah.

Diagnosa pasti dari cacingan jenis ini adalah dengan menemukan cacing baik pada muntahan / feses serta melakukan pemeriksaan mikroskopis untuk menemukan telurnya.

2. Cacing Pita (TAPEWORM)
Cacing Pita merupakan cacing yang cukup besar ukurannya, jelas terlihat, pipih (seperti pita) namun bersekat-sekat. Jenis yang paling banyak menginfeksi kucing adalah Dipylidium caninum, menular melalui gigitan kutu. Bisa disimpulkan kucing yang berkutu hampir pasti mengalami infeksi cacing pita.

Ukurannya yang cukup besar menjadikannya mudah ditemukan baik di feses ataupun di rambut sekitar anus, patahan segmen berbentuk menyerupai beras.

Bagaimana ciri-ciri kucing terinfeksi cacing pita?
Mengalami kekurusan, terhambatnya pertumbuhan sampai pada kurus yang ekstrim, lemah dan yang paling sering adalah ditemukannya potongan segmen cacing pita di sekitar rambut anus.

Kenapa menular melalui kutu, bagaimana siklusnya?
Sebenarnya bukanlah menular melalui gigitan kutu, melainkan menular karena si kucing memakan kutu yang  telah memakan telor cacing pita ini.
(Larva Kutu-memakan telor cacing-larva kutu berkembang menjadi dewasa-tertelan oleh kucing pada saat grooming / menjilati rambut). Lalu telor cacing dalam tubuh kutu ini akan berkembang dalam saluran usus si kucing.

Mengingat siklus cacing ini melibatkan kutu, sebaiknya konsultasi ke dokter hewan untuk pengobatan lebih tepat dan terarah karena bukan hanya menggunakan produk untuk worm / cacingnya saja melainkan juga untuk memutus siklus kutu (spot on / shampo / dll) serta membersihkan lingkungan keseharian si kucing dari kutu (siklus kutu).

[Bersambung bag.2 – Hookworm]

Oleh: Drh. Risa Isna Fahziar
Klinik Hewan Sahabat Satwa Banyuwangi
PDHI Jatim IV

Peringati Hari Rabies Sedunia dengan Aksi dan Vaksinasi Gratis

Posted on Updated on

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Memperingati hari rabies sedunia atau World Rabies Day (WRD), PDHI Jatim IV bersama civitas akademika kedokteran hewan PSDKU Universitas Airlangga dan Dinas Pertanian Kabupaten Banyuwangi menyelenggarakan aksi dan vaksinasi gratis. Peringatan WRD 2017 merujuk pada peran aktif profesi dokter hewan yang sangat vital dalam mencegah bahaya penyakit rabies. Rabies sendiri merupakan salah satu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh virus terutama menyerang hewan karnivora dan bertulang belakang dengan perantara kelelawar.

Sudah bertahun-tahun Indonesia terus memerangi penyakit zoonosis ini. Masih ada beberapa pulau yang nyatanya belum bebas dari rabies, bahkan bebas bersyarat vaksin untuk mencegah masuknya rabies yang setiap saat bisa mewabah. Begitu strategisnya penyakit rabies sehingga peran dokter hewan dalam menjaga di pintu masuk arus persebaran hewan menjadi sangat penting.

Banyuwangi sendiri tercatat secara geografis berdekatan dengan Pulau Bali yang notabene masih belum bebas rabies. Sebagai kabupaten yang terletak paling timur di Jawa Timur dan berbatasan dengan Bali, tentu Banyuwangi bisa berpotensial tersebar penyakit rabies. Sosok dokter hewan di PDHI Jatim IV, bidang kesehatan hewan Dinas Pertanian dan seluruh civitas mahasiswa kedokteran hewan harus memikul tanggung jawab besar untuk menjaga di pintu pertama agar rabies tidak sampai masuk ke Jawa Timur.

“Kegiatan ini merupakan kerja sama antara mahasiswa kedokteran hewan UNAIR PSDKU Banyuwangi, PDHI Jatim IV dan Dinas Pertanian yang focus untuk memperingati hari rabies sedunia”, sambut Dokter Bodhi selaku narasumber kegiatan.

Dalam aksi kali ini upaya terus dilakukan dalam bentuk aksi sosialisasi dan mengedukasi agar masyarakat paham akan bahaya rabies dan bagaimana cara menanggulangi penyakit yang bisa mematikan pada manusia ini. Tindakan pertama ketika manusia mendapat gigitan hewan penderita rabies dan penanganan pada hewan yang suspect rabies juga menjadi focus PDHI bersama seluruh lembaga yang berwenang di bidang kesehatan. Vaksinasi massal secara gratis juga digelar untuk hewan kesayangan anjing dan kucing milik masyarakat Banyuwangi agar kelak tumbuh kesadaran betapa pentingnya mencegah daripada terinfeksi virus penyebab rabies.

“Kami akan terus mengoptimalkan peran dokter hewan di PDHI Jatim IV dan para mahasiswa agar bisa terus berjuang menjaga Banyuwangi bebas dari Rabies serta memberikan rasa aman pada manusia”, lanjut Dokter Bodhi dalam kegiatan tersebut. (one)

Gelar Baksos Untuk Kendalikan Populasi Kucing

Posted on Updated on

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kucing bukan ras atau yang sering kita sebut kucing kampung terlihat sangat banyak bahkan memiliki perkembangan populasi yang sangat tinggi. Jumlah anak yang bisa hingga 2-6 ekor sekali kelahiran serta cepatnya kematangan perkembangbiakan kucing menjadi factor betapa kucing kampung tak terkendali. Bukan bermaksud untuk menghilangkan hak kucing untuk berkembang biak memiliki keturunan sehingga bertentangan dengan aspek kesejahteraan hewan (animal welfare), namun lebih kepada agar mengendalikan populasi dan keinginan pemilik selaku pemegang hak hidup kesejahteraan hewan kesayangannya.

Dalam kegiatan bakti social yang diselenggarakan oleh Dokter Santika dan Dokter Rifki dengan dibantu mahasiswa sebagai asisten operasi menuturkan bahwa upaya kali ini untuk mengendalikan populasi kucing dan tentunya menjaga kesejahteraan pemilik hewan. Bakti social ini telah berhasil melakukan operasi kastrasi kucing jantan 2 ekor dan steril ovarium kucing betina 5 ekor di Kecamatan Licin, Banyuwangi.

Dokter Santika juga berharap tindakan ini dapat dilakukan secara benar karena untuk mengendalikan populasi dengan cara operasi merupakan pilihan yang bijak dibandingkan dengan menggunakan terapi kimia. Demikian juga dengan tindakan operasi harus dilakukan oleh dokter hewan yang secara legal telah diizinkan dan diberi kewenangan melakukan tindakan medis.

“Kegiatan ini akan berlangsung annual setiap tahun sehingga bakti social semacam ini dapat membantu mengendalikan populasi kucing”, ungkap Dokter Santika.

“Kedepan akan semakin banyak pemilik hewan serta kelompok pecinta hewan yang juga turut menjaga populasi kucing dengan tetap sesuai kaidah kesejahteraan hewan”, lanjut Dokter Santika dalam kegiatan tersebut. (one)

Ingin Adopsi Kucing Persian? Ikutilah Saran Dokter Risa

Posted on Updated on

Drh. Risa
Drh. Risa Isna Fahziar

Dear pets lover, adakalanya kita atau anak kita sangat menginginkan segera memiliki seekor kucing, dengan cara mengadopsi. Namun “kesegeraan” ini kadang berbuah kurang baik yakni tidak jarang anakan (kitten) yang kita adopsi berujung sakit, lemas, kurus dan berakhir meninggal.

Yaaa, Dear Pets Lover, memang benar kita perlu mengetahui kriteria atau syarat-syarat yang harus terpenuhi untuk seekor kitten layak kita adopsi. Tidak lain tujuannya untuk kesehatan, keberlangsungan hidup dan kenyamanan perawatan juga.

Melalui rubrik berbagi ini akan kami bahas kriteria adopsi pada kitten dalam beberapa syarat, antara lain:

  1. Usia.

Pada dasarnya kitten siap adopsi adalah pada saat dia lepas susu, artinya sudah tidak membutuhkan indukan lagi untuk hidup. Seperti kita ketahui, seekor bayi persia hidup 58 s/d 60 hari dalam kandungan induk, kitten usia 10 hari mulai membuka mata, 20 hari mulai “ongkong-ongkong” mengenal dunia sekitar litter box, usia 30 hari mulai belajar makan sendiri (baby cat food, minced, baby n mother cat food, instinctive food). Namun demikian meski sudah usia 30 hari, kitten masih menyusu, membutuhkan bantuan grooming dari sang induk dan membersihkan tubuh. Pada usia 60 hari biasanya induk akan menyapih anak-anaknya, meski ada beberapa ekor yang masih menyusui anaknya hingga usia 4 bulan. Induk yang tervaksin akan mewariskan titer antibody (maternal) yang tinggi pada anak-anaknya, hingga usia 3 bulan, di usia 3 bulan inilah bisa dilakukan vaksinasi.

Sebaiknya jangan nekad mengadopsi kitten pada saat dia masih menyusu, selain masih lemah karena butuh peran induknya di usia ini kitten sangat rawan terinfeksi virus. Konkritnya di usia 8 minggu (minimal) sebaiknya adopsi bisa dilakukan

  1. Berat Badan.

Dalam perawatan yang optimal, seekor induk mampu merawat anak-anaknya dengan cukup baik, induk yang tervaksin, cukup nutrisi, perawatan bersih, bebas parasit (jamur, kutu, tungau dan cacing) akan “memproduksi” anakan yang sehat. Adapun berat rata-rata anak di usia siap adopsi (2 s/d 3 bulan) untuk kucing persia adalah 800 gram s/d 1300 gram (toleransi 650 sd 700 gram). Pada usia 8 minggu jangan memaksakan untuk memisah anak dan induk jika beratnya kurang dari 800 gram.

Konkritnya berat badan 800 gram di usia 4 minggu menandakan bahwa si kitten tumbuh dengan sehat dan baik

  1. Bersih.

Pilihlah anak kucing yang paling bersih, periksa secara detail bagian-bagian tubuh kitten.

Mata : berbinar, cerah, bulat (open eyes) tidak belekan dan bersih, air mata tidak berlebihan.
Telinga : (Luar) tidak ada keropeng, bersih, rambut tumbuh dengan sempurna, tidak botak.
Kulit : pastikan secara umum bersih dari jamur, tidak ada keropeng dan lembut.
Rambut : pastikan rambut tumbuh lebat (mengindikasikan kucing sehat dan terpenuhi gizinya) tidak ada kebotakan. Sela antar jari juga pastikan bersih dan bebas jamur. Cek juga rambut di sekitar anus, jika bersih menandakan si kitten tidak ada masalah pencernaan

  1. Aktif, Makan Minum Lancar.
20170923_105913
Anak dan Induk kucing

Kucing kitten sehat selalu aktif bermain, meng-groming rambutnya sendiri, menjilat dan menata rambut. Berlarian,melompat dan responsif serta interaktif terhadap mainan atau gerakan. Nafsu makan dan minum tinggi.

Sebaiknya jangan mengadopsi kitten yang sedang lesu, lemah, diam mojok, terlihat tidak begitu suka makan dan tidak muntah

  1. Buang Air Besar (Pup) dan Buang Air Kecil (Pipis)

Kitten yang sehat Pup dan Pipis dalam 1 x 24 jam berkisar antara 1 s/d 3x konsistensi padat.

Perubahan makanan merupakan hal yang sensitif pada kitten namun bisa kit jadikan patokan selama kitten tidak pup lebih dari 3x dalam 24 jam, masih belum masuk kategori diare

  1. Bentuk Tubuh Proporsional

Pilihlah kitten dengan bentuk tubuh yang ideal, cobby dan yang terpenting dada (tulang dada) tidak menonjol, tidak gepeng dan tidak pula kempes vertikal

  1. Suhu badan.

Suhu badan kitten yang normal dan sehat adalah 38.0 s/d 39.0oC toleransi 37.9 (di ruangan ber-AC) dan 39.2 (sedang aktif).

  1. Breeder & Parent

Carilah kitten dari peternak yang memiliki reputasi baik

Baik dalam menjaga kualitas perawatan, kesehatan bahkan pada kualitas genetis dan jauhi memilih anakan dari perkawinan sedarah. Jujur dalam memberikan informasi kepada calon adopter, rutin melakukan vaksinasi, deworming, deflea serta dokumentasi & administrasi yang baik terhadap health recordnya.

Menyayangi kucing bukan berarti mampu membelikan segala kebutuhan kucing yang bermerk dan serba mahal, namun lebih pada perhatian dan peduli, serta berprinsip mencegah lebih baik daripada mengobati.

Be a smart, Be a wise.
Oleh drh. Risa Isna Fahziar
Klinik Hewan Sahabat Satwa Banyuwangi
PDHI Jatim IV